Shaolin dan Thifan Po Khan


Selain berkembang ke ke arah timur dan selatan hingga Okinawa, Jepang dan Muangthai, beladiri aliran Siauw Liem (Shaolin) ini juga berkembang ke arah utara hingga masuk ke daerah suku Lama di Tibet dan suku Wigu di Turkistan.

Pada abad ke-12 Hijriyah, dakwah agama Islam masuk ke suku tersebut. Mereka yang telah menganut agama Islam kemudian menyesuaikan ilmu beladirinya dengan menghilangkan unsur-unsur ajaran agama Budha yang ada.

Seorang pemuda bangsawan dari suku Taily yang bernama Je’nan (Tse’ Nan) datang ke tanah San Yu. Je’nan tidak pandai dalam ilmu beladiri, tetapi pandai dalam ilmu syara’ dan dikenal sebagai seorang ahund (ustadz). Ia kemudian bekerja di sebuah lanah (lembaga pendidikan).

Suatu hari, dia mendengar ada suatu ilmu beladiri yang hebat. Ia pun tertarik walaupun belum pernah melihatnya secara langsung, hanya kabar angin dari murid-murid di lanah tersebut. Kemudian ia mendatangi tempat tersebut, ada sebuah ruangan besar berdinding tanah liat, ia melihat beberapa tamid (siswa perguruan beladiri) sedang turgul (latihan bertarung). Je’nan terkesan dan merasa senang melihatnya. Dalam hati Je’nan bertanya mengapa dirinya terlalu bodoh dalam ilmu beladiri dan mengapa dirinya menjadi seorang laki-laki lemah seperti perempuan penari kerajaan.

Je’nan pun merenung tentang kegunaan ilmu beladiri, apalagi ia teringat pernah berdebat dengan seorang tentara kerajaan yang membenci Islam kemudian Je’nan ditampar dan diludahi mukanya. Semangat Je’nan bangkit, kemudian ia datang ke guru ilmu beladiri suku Wigu tersebut. Ia mempelajari dan mengkaji ilmu beladiri suku Wigu selama 6 bulan 9 hari. Kemudian Je’nan berguru secara pribadi ke seorang pendekar yang bernama Namsuit (Nam Choi) yang usianya lebih dari 100 tahun tetapi masih sanggup mematahkan rantai besi. Je’nan berguru dengan tekun kepada Namsuit selama bertahun-tahun hingga menjadi seorang pendekar.

Je’nan kemudian mencoba ilmu beladiri yang telah dipelajarinya dengan mengajak latihan bertarung para siswa seangkatannya yang pernah mencemoohnya sewaktu berlatih bersamanya dulu. Hasilnya, tidak ada yang bisa mengalahkan Je’nan. Semenjak kejadian itu, Je’nan dianggap setara dengan guru, walaupun banyak yang heran karena selama ini Je’nan tidak pernah terlihat latihan ilmu bertarung.

Berita kehebatan Je’nan tersebar luas. Karena Je’nan belum puas dengan ilmu beladiri yang dimilikinya, ia pun pergi mengembara ke arah timur, mendatangi guru-guru yang ditunjukkan oleh Namsuit kepadanya.

Pada saat perjalannya sampai di daerah Kiti, Je’nan bertemu dengan seorang pendekar yang bernama Uzusat. Je’nan diajak bertarung olehnya di acara perayaan yang diadakan di istana Kiti Khan. Je’nan berhasil memenangkan pertarungan dan akhirnya Uzusat berguru kepada Je’nan. Je’nan pun juga sambil mempelajari teknik-teknik beladiri Uzusat saat bertarung. Uzusat mengatakan bahwa gurunya pernah berguru ke pendekar Shaolin di Cina.

Dalam perjalanan pun, Je’nan rajin memperhatikan gerak-gerik dan pertarungan binatang. Ada pertarungan harimau putih dan harimau belang, juga binatang lainnya yaitu kucing, kera besar, panda, ayam sutra dan berbagai serangga. Juga kuda yang ia tunggangi yang kadang terperosok ke dalam tumpukan salju. Ia catat semuanya dalam sebuah kitab.

Akhirnya Je’nan sampai di suatu daerah tempat seorang pendekar yang bernama Syukit. Syukit inilah pendekar yang dimaksudkan oleh Namsuit. Syukit memiliki sebuah kitab ilmu beladiri aliran Shaolin yang diperolehnya dari seorang pemabuk dari Cina. Je’nan meminta kitab itu setelah menukarnya dengan beberapa keping uang emas, karena Syukit adalah pendekar yang sangat miskin yang punya banyak hutang kepada tuan tanah.

Kitab itu terbungkus dengan kulit yang sangat tebal dan berbahasa Cina. Je’nan bisa berbahasa Cina karena ibunya adalah orang Cina dan pernah mengajarkannya bahasa Cina kepadanya. Dipelajarinya kitab itu, sebagian diambil dan diubah bentuknya hingga terbentuk aliran beladiri yang diberi nama Shurulkhan, yang berarti siasat para bangsawan. Setelah berhasil mempelajari kitab tersebut, Je’nan kemudian memiliki 29 murid yang terdiri dari 20 orang tua dan 9 anak muda.

Salah seorang murid Je’nan berkhianat. Dia memfitnah Je’nan kepada raja Qirat, sehingga sang raja memerintahkan pasukannya untuk menangkap Je’nan dan murid-muridnya. Melihat kedatangan tentara kerajaan tersebut, Je’nan dan para murid tua termasuk pendekar Namsuit yang saat itu berada di sana langsung bersiap menghadapinya sehingga terjadilah pertempuran. Namsuit memerintahkan Je’nan agar segera menyelamatkan diri. Akhirnya Namsuit dan para murid tua tewas dalam pertempuran itu.

Dengan penuh luka, Je’nan menunggang kuda putihnya menyelamatkan diri, berpisah dengan 9 murid mudanya yang menjadi pewaris ilmu beladiri Surulkhan. Kemudian Surulkhan pecah menjadi 9 aliran, yaitu Payuk, Orluq, Tae Fatan, Bahroiy, Namsuit, Syirulgrul, Suyi, Krait dan Naiman. Di kemudian hari, 9 aliran ini disatukan kembali oleh seorang pendekar yang bernama Ahmad Syiharani hingga terbentuk aliran Syufu Taesyukhan dan Thifan Pokhan.

1 komentar:

  1. HanDzak mengatakan...

    sebarkanlah terus cahaya islam

Posting Komentar