Bruce Lee Biograph




Bruce Lee

Bruce Lee(27 November 1940 – 20 Juli 1973) adalah salah satu master seni beladiri.Nama lengkap dia adalah Bruce Jun Fan Lee . Tinggi badan 5 setengah kaki dengan berat 135 pon. Menciptakan seni beladiri JKD (Jeet Kune Do) yang di dapat dari penelitiannya berdasarkan ilmu fisika Newton dan teknik serta prinsip olah raga anggar Eropa , tinju ala Barat, Wing Chun (Muridnya Ip-Man), Taekwondo , prinsip seni bela diri ini adalah menahan serangan kepalan tangan atau kaki. "The Way of the Intercepting Fist ", kata Bruce Lee.

Bruce Lee juga mempunyai murid - murid yaitu :

* Karem Abdul-Jabbar
* Joe Louis
* Chuck Norris
* Mike Stone


Bruce Lee juga membuat beberapa filosifi atau qoutes yaitu :

*“I fear not the man who has practiced 10,000 kicks once, but I fear the man who has practiced one kick 10,000 times.”

*“using no way as a way, using no limitations as a limitation.”

*“Simplicity is the key to brilliance”

*“Always be yourself, express yourself, have faith in yourself, do not you go out and look for a successfull personality an duplicate it.”

*“Empty your mind, be formless, shapeless - like water. Now you put water into a cup, it becomes the cup, you put water into a bottle, it becomes the bottle, you put it in a teapot, it becomes the teapot. Now water can flow or it can crash. Be water, my friend.”

*“Real living is living for others.”

*"If i tell you im good,you would probably think im boasting. If i tell you im no good, you know im lying"

(masih bnyk yg lainnya)


Bruce Lee dikenal juga sebagai aktor aktion legendaris China yang populer dengan film-film Kungfunya. Meski demikian Lee terlahir di San Francisco, California, Amerika Serikat, 27 November 1940 dan besar di Hongkong.

Selain sebagai aktor, Lee juga seorang produser film, yang memproduksi film-film Hongkong, di samping terkenal juga sebagai seorang master kung fu dan penulis buku.

Pria yang juga memiliki nama Li Xiao Long ini, mengeluti dunia akting sejak usia balita, di mana ayahnya yang juga pemain opera sering mengajak dirinya bermain di pangung. Hingga akhirnya pada usia 18 tahun, ia telah membintangi 20 film. Dimana film-film terkenal yang dibintanginya di antaranya WAY OF THE DRAGON, ENTER THE DRAGON, FIST OF FURY, THE GREEN HORNET, dan lain-lain.

Tidak hanya film yang menjadi karya Lee, aktor yang menempuh ilmu filsafat selama kuliah itu juga seorang penulis buku. Buku-buku karyanya berjudul Chinese Gung-Fu: The Philosophical Art of Self Defense (Bruce Lee's first book) dan The Tao of Jeet Kune Do (Published posthumously). Selain juga menciptakan sebuah seni bela diri yang ia diberi nama Jeet Kune Do, yang dipadukan dari ilmu bela diri, fisika dan ajaran tao yang selama ini dipelajarinya.

Lee yang pernah masuk dalam 100 Most Important People of the Century versi majalah TIME itu berakhir dengan kematiannya yang masih penuh dengan tanda tanya. Suami Linda Lee itu meninggal di Hong Kong, saat dalam penyiapan film GAME OF DEATH.

Prediksi kematiannya pun bermacam, mulai dari penyakit yang tidak terdeksi sebelumnya hingga kemungkinan obat-obatan yang dikonsumsinya. Namun demikian, ia sebelumnya mengkonsumsi Analgesic (obat penghilang nyeri) yang diberikan koleganya bernama, Betty Ting Pei, di mana dirinya sebenarnya alergi terhadap obat tersebut.

Di daerah di china juga terdapat patung Bruce Lee. Itu sebagai kebanggaan rakyat china karena memiliki seorang ahli bela diri yg di lahirkan di negaranya


tambahan info nih gan. selain ahli beladiri dan filsafat ternyata Bruce Lee juga seorang seniman. Dia ahli membuat lukisan. (gambar lukisan lgi dlm pencarian)

Bruce Lee juga mampu melakukan push up dengan 2 jari , 1inc puch , dan tendangan sidekicknya yg sangat hebat

lowongan kerja

We are one of the fastest growing IT Company and now we are looking for a dynamic people to fill up the position of : Service Center Supervisor

Finance (Treasury) Executive
Responsibilities:

  • Collect and prepare Account Payable document for payment process to support operational activities
  • Administer all transactions in accordance with the prevailing system and procedure in order to ease in providing financial report and maintain a proper documentation
  • Maintain payment transactions into system following SOP
  • Verify the invoice/quotation towards the received payment in order to ensure the accuracy of the received amount  before closing the data
  • To do offsetting between invoices by system and cash received into system for fews branches service center
  • Arrange Petty Cash
  • Filling & keep well all documents


Requirements:

  • Female, max 35 years old
  • Minimum Bachelor degree (S1), majoring in Accounting from reputable University
  • Minimum of 2 years working experience in Treasury, at Accounting firm will be an advantage
  • Familiar with financial statement, processes, data, systems
  • Excellent quantitative and analytics skill
  • Good communication skills
  • Able to work and deliver in high pressure environment
  • Proficient in English, Mandarin will be preferable

asal mula sakuragi hanamichi

hanamichi_real
Bagi Anda semua penggemar komik atau anime jepang mungkin sudah tidak asing lagi dengan karakter Hanamichi Sakuragi. Hanamichi Sakuragi lahir pada tahun 1968 dari keluarga sederhana. Ibunya meninggal saat dia masih anak2.
Tanpa kasih sayang dari sang ibu, dia menggunakan kekerasan (menjadi petarung jalanan) untuk menyelesaikan
masalahnya. Untuk seorang remaja dia sangat tinggi (175cm) pada usia 12 tahun dan tubuhnya jadi terlatih
karena sering berkelahi. Suatu hari, ia berkelahi dengan seorang siswa di sport zone, universitas tokyo.
Kemampuannya berkelahi, kecepatannya dan kekuatan fisiknya menarik perhatian pelatih basket dan menawari
hanamichi untuk bergabung dengan tim basketnya.

Pada suatu latih tanding, pada umur 17 tahun (189cm), melawan tim nasional jepang, hanamichi menunjukkan
kemampuan yang sangat mengejutkan dengan mencetak 33 poin. Walaupun timnya kalah dengan hanya menvetak 59 poin
(59-115), pertandingan tersebut telah menjadi pertandingan pertama yang menggembirakan bagi hanamichi.
Hanamichi menjadi pusat perhatian dan mendapat sebutan sebagai “The Hope of The Japanese Basketball” alias
harapan bagi dunia basket jepang.
Beberapa tahun kemudian, ayahnya jatuh sakit. Hanamichi pulang kembali ke Tokyo. Setelah sampai di Tokyo
ia langsung menuju rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Namun ketika menyeberang jalan, ia tertabrak mobil yang melaju
dengan kecepatan tinggi. Meski mempunyai tubuh sekeras besi, efeknya terlalu kuat. Hanamichi pingsan lalu dia segera
dibawa ke rumah sakit namun ia telah meninggal sebelum sampai kamar operasi. Ia meninggal pada usia 18 tahun.
Dunia basket jepang benar-benar hancur karena telah kehilangan bintang masa depannya. Penulis komik, Takehiko Inoue,
menciptakan serial komik “Slam Dunk” berdasarkan kisah masa muda Hanamichi Sakuragi.
Keren ya, ternyata ada versi asli dari karakter kartunnya ya?
sumber: kaskus.

Kisah Indah dari Vietnam


Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi secara benar, selain Allah Ta’la. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah Ta’la.

I
tulah adalah syahadah yang ku ucapkan dari dasar lubuk hati, di depan jama’ah sebuah masjid di kerajaan belgia pada tanggal 19 Mei 2000, saat itu aku baru menginjak pada usia 26 tahun. Aku lahir dan tumbuh di Hanoi, Vietnam. Aku bersyukur atas rahmat Allah Ta’alah, tlah mengizinkan mengunjungi Belgia pada tahun 1998, untuk study dan meraih gelar Master of Science pada bidan sumberdaya lahan fisik.
Ketika masih di Vietnam, aku memiliki konsep yang sangat samar tentang pencipta,  dan sering merasa malu untuk bertanya pada diri sendiri,”Dari mana manusia dan alam semesta berasal?” pada saat itu Tuhan atau Allah Ta’ala, Adam dan Hawa bagiku hanyalah karakter dalam dongeng anak-anak. Aku juga tlah diberitahu tentang Allah Ta’ala, Muhammad, Alquran dan Umat Islam, tapi aku tidak berfikir bahwa istilah-istilah ini saling berkaitan erat satu sama lain.
Diantara teman-teman sekelasku di belgia, beberapa menganut Kristen, dan sebagian memeluk Islam. Sering kali, mereka menjelaskan kepadaku tentang tuhan tapi tak ku perhatikan. Sebaliknya, justru akusering menentangnya dengan keras. Pikirku,”Mereka berpendidikan tinggi, mengapa masih percaya pada omong kosong sprti itu?”
Aku masih ingat, ketika untuk pertama kalinya aku melihat dari belakang, seorang teman muslim sedang membungkuk ke bawah untuk berdo’a. Aku pikir dia mencari sebuah benda jatuh di lantai, kemudian, ketika aku mengerti kebenaran, aku sangat malu pada kurangnya pengetahuanku.
Ketika aku diberitahu bahwa populasi muslim di dunia adalah satu miliar tiga ratus juta, yang berarti terdapat satu muslim pada setiap lima orang , aku berubah, dari ketik pedulian menjadi penuh ingin tahu, dan berganti untuk banyak bertanyatentang Islam. Rasa penasaranku meningkat ketika tahu bahwa Alqur’anmemberitakan dengan jelas sejumlah fenomena ilmiah dan juga menerangkan tentang akhirat.
Aku tahu, apalagi, bahwa ada juga sejumlah komunitas di Vietnam. Hal ini membuatku menjadi lebih ingin tahu tentang Islam secara menyeluruh. Sebuah agama yang memiliki banyak pengikut yang mengadopsi dan mengamalakan cara kehidupan yang murni dan terhormat. Saya pikir pasti ada mukjizat yang membuat kaum Muslim mempunyai iman yang teguh.
Aku mulai bertanya tentang agama pada bulan September 1999. Semakin ku pelajari, semakin aku menghargai Islam dan menyadari, bahwa umat islam hidup sangat tulus dan memiliki banyak keistimewaan yang membuatku menghormati mereka. Semakin aku memperdalam hubungan dengan muslim, semakin meluluhkan sintimen negatifku terhadap muslim.
Sering kali aku bertanya pada diri sendiri apakah tuhan bemar-benar ada. Bagaimana kita bisa percaya kepada Allah Ta’ala sementara kita tidak bisa melihat Dia dengan mata kita sendiri? Meskipun banyak peralatan moderen, kita masih tidak dapat melihat tuhan. Selama ini aku berfikir siang dan malam demi mencari jawaban yang tepat untuk diriku sendiri.
Kemudian  aku menyadari bahwa meskipun tidak mampu untuk melihat tuhan, seseorang masih dapat melihat keberadaan-Nya dengan hati mereka. Ini sperti ketika kita melihat sebuah lukisan, kita hanya bisa merasakan pikiran atau tema dari sang pelukis dalam pikiran kita, tetapi kita tidak mampu memegangnya langsung dari lukisan itu. Namun jika manusia bisa melihat dan mengenali tuhan secara pribadi ( seperti bertulang dan daging ) maka apakah benar bahwa tuhan sama dengan makhluk yang Dia ciptakan? Tidak, dan itu adalah esensi Islam. Bahwa tuhan tidak pernah diwakili untuk diibadah dalm bentuk patung yang dibuat oleh manusia sendiri.
Dalam proses bertanya tentang Islam, aku tlah menerima dorongan, bantuan sepenuh hati dan bimbingan dari saudara dan saudari se-islam seluruh dunia, serta khususnya muslim berbahasa Vietnam.
Aku bersyukur memperoleh terjemahan Alqur’an dalam bahasa Vietnam pada bulan Maret. Setelah membaca Alqur’an aku percaya sepenuhnya pada Allah Ta’ala sebagai pencipta dan Tuhan alam semesta. Isi Alqur’an memang firman Allah Ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.
Aku percaya bahwa Islam adalah agama kebenaran abadi yang sangat dekat dengan kehidupan. Saya tlah memutuskan untuk mengikuti Islam dan menjadiseorang muslim tapa menunda-nunda, bahkan tidak untuk satu atau dua menit sekali pun.
Hari dimana aku menjadi seorang muslim,adalah hari terpenting dalam hidupku . semenjak saat ini aku dapat malihat cahaya kebenaran Islam yang mengakhiri masa-masa kegelapan dan kebodohan. Aku merasa damai dan gembira karena keyakinanku memiliki alasan yang kuat . aku sangat tersanjung dan bangga ketikamenjadi seorang muslim. Diriku tlah melakukan perubahan besar. Sebelumnya, aku sering minum berakohol, dan bir pada saatsukacita dan kesedihan. Aku berbohong tampa maludan ketika melakukannya, itu hanya untuk kepentinganku sendiri. Aku tidak pernah berfikir apakah itu baik atau buruk, dan aku sangat takut mati! Sekarang, aku benar-benar berbeda. Aku merasa Allah Ta’ala mengawasiku sepenjang waktu, melihatku, mendengarkanku, dan tahu semua yang ku pikirkan. Hal ini yang membuatku menjdai orang yang baik dan lebih shalih. Meskipun aku merasa sangat menyesal untuk kdzaliman yang sebelumnya kulakukan, aku masih memiliki ketenangan pikiran, allah Ta’ala adalah Maha Pemurah dan Maha Penyayang.
Aku mempunyai harapan utama, yaitu, berusaha sedemikian rupa untuk mengajak banyak orang di slulurh dunia, khususnya di Vietnam, untuk bersama-sama menuju cahaya terang, kualitas indah dari jalan Islam yang benar, dan menjadi muslim dengan cara yang sama sebagaimana Allah Ta’ala tlah membimbing dan mengarahkanku.


dkutip dari : http://revertmuslims.com/

Shalat Nishfu Sya’ban

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Apakah shalat “nishfu Sya’ban” itu ada dan sesuai dengan Sunah? Saya sering mendengar adanya pelaksanaan shalat tersebut secara berjemaah, biasanya dalam rangka menyambut Ramadhan. Jazakallahu khairan.

Arya (dwiarya**@***.com)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah.

Ulama berselisish pendapat tentang status keutamaan malam nishfu Sya’ban. Setidaknya, ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut ini keterangannya.

Pendapat pertama: Tidak ada keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban.

Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadis lemah. Al-Hafizh Abu Syamah mengatakan, “Al-Hafizh Abul Khithab bin Dihyah, dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban, mengatakan, ‘Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satu pun hadis sahih yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban.”” (Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, hlm. 33)

Syekh Abdul Aziz bin Baz juga mengingkari adanya keutamaan bulan Sya’ban dan nishfu Sya’ban. Beliau mengatakan, “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat di malam nishfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At-Tahdzir min Al-Bida’, hlm. 11)

Pendapat kedua: Ada keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban.

Pendapat ini berdasarkan hadis sahih dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (H.R. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syekhul Islam mengatakan, “… Pendapat yang dipegang mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Mazhab Hanbali adalah meyakini adanya keutamaan malam nishfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para shahabat dan tabi’in ….” (Majmu’ Fatawa, 23:123)

Ibnu Rajab mengatakan, “Terkait malam nishfu Sya’ban, dahulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu ….” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 247)

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:

Nishfu Sya’ban termasuk malam yang memiliki keutamaan. Hal ini berdasarkan hadis, sebagaimana yang telah disebutkan. Meskipun sebagian ulama menyebut hadis ini hadis yang dhaif, namun, insya Allah yang lebih kuat adalah penilaian Syekh Al-Albani, yaitu bahwa hadis tersebut berstatus sahih.
Tidak ditemukan satu pun riwayat yang menganjurkan amalan tertentu ketika nishfu Sya’ban, baik berupa puasa atau shalat. Hadis di atas hanya menunjukkan bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam nishfu sya’ban, kecuali dua jenis manusia yang disebutkan.
Ulama berselisih pendapat tentang apakah dianjurkan menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan banyak beribadah? Sebagian ulama menganjurkan, seperti sikap beberapa ulama tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sebagian yang lain menganggap bahwa mengkhususkan malam nishfu Sya’ban untuk beribadah adalah bid’ah.
Ulama yang memperbolehkan memperbanyak amal di malam nishfu Sya’ban menegaskan bahwa tidak boleh mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjemaah maupun sendirian di malam ini, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam nishfu Sya’ban. Karenanya, menurut pendapat ini, seseorang diperbolehkan memperbanyak ibadah secara mutlak, apa pun bentuk ibadah tersebut.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Seputar Permasalahan di Bulan Sya’ban

(Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin[1])

Berikut ini uraian singkat tentang beberapa masalah yang berkaitan dengan bulan Sya’bân.
PERTAMA, TENTANG KEUTAMAAN PUASA BULAN SYA’BÂN
Dalam shahih Bukhâri dan Muslim, diriwayatkan bahwa A’isyah radhiyallâhu’anha menceritakan,
“Aku tidak pernah melihat Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhân dan aku tidak pernah melihat Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam puasa lebih banyak dalam sebulan dibandingkan dengan puasa Beliau pada bulan Sya’bân.”[2]
Dalam riwayat Bukhâri, ada riwayat lain,
“Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam berpuasa penuh pada bulan Sya’bân.”[3]
Dalam riwayat lain Imam Muslim,
“Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam berpuasa pada bulan Sya’bân kecuali sedikit.”[4]
Imam Ahmad rahimahullâh dan Nasa’i rahimahullâh meriwayatkan sebuat hadits dari Usâmah bin Zaid radhiyallâhu’anhu, beliau mengatakan,
Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah berpuasa dalam sebulan sebagaimana Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam berpuasa pada bulan Sya’bân. Lalu ada yang berkata, ‘Aku tidak pernah melihat anda berpuasa sebagaimana anda berpuasa pada bulan Sya’bân.’ Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjawab, ‘Banyak orang melalaikannya antara Rajab dan Ramadhân. Padahal pada bulan itu, amalan-amalan makhluk diangkat kehadirat Rabb, maka saya ingin amalan saya diangkat saat saya sedang puasa.“[5]

KEDUA, TENTANG PUASA NISFU (PERTENGAHAN) SYA’BÂN
Ibnu Rajab rahimahullâh menyebutkan dalam al- Lathâ’if, (hlm. 143, cet. Dar Ihyâ’ Kutubil Arabiyah) dalam Sunan Ibnu Mâjah dengan sanad yang lemah dari ‘Ali radhiyallâhu’anhu bahwa Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda, Jika malam nisfu Sya’bân, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah pada siangnya. Karena Allâh Ta’ala turun pada saat matahari tenggelam, lalu berfirman, “Adakah orang yang memohon ampun lalu akan saya ampuni ? adakah yang memohon rizki lalu akan saya beri ? …”[6]
Saya mengatakan,
“Hadits ini telah dihukumi sebagai hadits palsu oleh penulis kitab al Mannâr. Beliau rahimahullâh mengatakan (Majmu’ Fatawa beliau 5/622), ‘Yang benar, hadits itu maudhu’ (palsu), karena dalam sanadnya terdapat Abu Bakr, Abdullah bin Muhammad, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Abi Bisrah. Imam Ahmad rahimahullâh dan Yahya bin Ma’in rahimahullâh mengatakan, ‘Orang ini pernah memalsukan hadits’.”
Berdasarkan penjelasan ini, maka puasa khusus pada pertengahan Sya’bân itu bukan amalan sunnah. Karena berdasarkan kesepakatan para ulama’, hukum syari’at tidak bisa ditetapkan dengan hadits-hadits yang derajatnya berkisar antara lemah dan palsu. Kecuali kalau kelemahan ini bisa tertutupi dengan banyaknya jalur periwayatan dan riwayat-riwayat pendukung, sehingga hadits ini bisa naik derajatnya menjadi Hadits Hasan Lighairi. Hadits Hasan Lighairi boleh dijadikan landasan untuk beramal kecuali kalau isinya mungkar atau syadz (nyeleneh).

KETIGA, TENTANG KEUTAMAAN MALAM NISFU SYA’BÂN
Ada beberapa riwayat yang dikomentari sendiri oleh Ibnu Rajab rahimahullâh setelah membawakannya bahwa riwayat-riwayat ini masih diperselisihkan. Kebanyakan para ulama menilainya lemah sementara Ibnu Hibbân rahimahullâh menilai sebagiannya shahih dan beliau membawakannya dalam shahih Ibnu Hibbân.
Diantara contohnya, dalam sebuah riwayat dari ‘Aisyah radhiyallâhu’anha,
“Sesungguhnya Allâh Ta’ala akan turun ke langit dunia pada malam nisfu Sya’bân lalu Allâh Ta’ala memberikan ampunan kepada (manusia yang jumlahnya) lebih dari jumlah bulu kambing-kambing milik Bani Kalb.”
Hadits ini dibawakan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Mâjah. Tirmidzi rahimahullâh menyebutkan bahwa Imam Bukhâri rahimahullâh menilai hadits ini lemah. Kemudian Ibnu Rajab rahimahullâh menyebutkan beberapa hadits yang semakna dengan ini seraya mengatakan, “Dalam bab ini terdapat beberapa hadits lainnya namun memiliki kelemahan. “
As-Syaukâni rahimahullâh menyebutkan bahwa dalam riwayat ‘Aisyah radhiyallâhu’anha tersebut ada kelemahan dan sanadnya terputus. Syaikh Bin Bâz rahimahullâh menyebutkan bahwa ada beberapa hadits lemah yang tidak bisa dijadikan pedoman tentang keutamaan malam nisfu Sya’bân.

KEEMPAT, TENTANG SHALAT PADA MALAM NISFU SYA’BÂN
Untuk masalah ini ada tiga tingkatan,
Tingkatan pertama, shalat yang dikerjakan oleh orang yang terbiasa melakukannya diluar malam nisfu Sya’bân. Seperti orang yang terbiasa melakukan shalat malam. Jika orang ini melakukan shalat malam yang biasa dilakukannya diluar malam nisfu Sya’bân pada malam nisfu Sya’bân tanpa memberikan tambahan khusus dan dengan tanpa ada keyakinan bahwa malam ini memiliki keistimewaan, maka shalat yang dikerjakan orang ini tidak apa-apa. Karena ia tidak membuat-buat suatu yang baru dalam agama Allâh Ta’ala
Tingkatan kedua, shalat yang khusus dikerjakan pada malam nisfu Sya’bân. Ini termasuk bid’ah. Karena tidak ada riwayat dari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam yang menyatakan Beliau memerintahkan, atau mengerjakannya begitu juga dengan para shahabatnya. Adapun hadits Ali radhiyallâhu’anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah rahimahullâh, “Jika malam nisfu Sya’bân, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah pada siangnya.”, sudah dijelaskan (di atas) bahwa Ibnu Rajab rahimahullâh menilainya lemah, sementara Rasyid Ridha rahimahullâh menilainya palsu.
Hadits seperti ini tidak bisa dijadikan sandaran untuk menetapkan hukum syar’i. Para Ulama memberikan toleran dalam masalah beramal dengan hadits lemah dalam masalah fadhâilul a’mâl, tapi itupun dengan beberapa syarat yang harus terpenuhi, diantaranya,
  • Syarat pertama, kelemahan hadits itu tidak parah. Sementara kelemahan hadits (tentang shalat nisfu Sya’bân) ini sangat parah. Karena diantara perawinya ada orang yang pernah memalsukan hadits, sebagaimana kami nukilkan dari Muhammad Rasyid Ridha rahimahullâh.
  • Syarat kedua, hadits yang lemah itu menjelaskan suatu yang ada dasarnya. Misalnya, ada ibadah yang ada dasarnya lalu ada hadits-hadits lemah yang menjelaskannya sementara kelemahannya tidak parah, maka hadits-hadits lemah ini bisa memberikan tambahan motivasi untuk melakukannya, dengan mengharapkan pahala yang disebutkan tanpa meyakininya sepenuh hati. Artinya, jika benar, maka itu kebaikan bagi yang melakukannya, sedangkan jika tidak benar, maka itu tidak membahayakannya karena ada dalil lain yang dijadikan landasan utama.
Sebagaimana sudah diketahui bahwa dalam dalil yang memerintahkan untuk menunaikan shalat nisfu Sya’bân, syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi karena perintah ini tidak memiliki dalil yang shahih dari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahullâh dan yang lainnya.
Dalam al-Lathâif (hlm. 145) Ibnu Rajab rahimahullâh mengatakan,
“Begitu juga tentang shalat malam pada malam nisfu Sya’bân, tidak ada satu dalil sahih pun dari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam maupun dari shahabat.
Muhammad Rasyid Ridha rahimahullâh mengatakan,
“Allâh Ta’ala tidak mensyari’atkan bagi kaum Mukminin satu amalan khusus pun pada malam nisfu Sya’bân ini, tidak melalui kitabullah, ataupun melalui lisan Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam juga tidak melalui sunnah Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam.”
Syaikh Bin Baz rahimahullâh mengatakan,
“Semua riwayat yang menerangkan keutamaan shalat malam nisfu Sya’bân adalah riwayat palsu.”
Keterangan terbaik tentang shalat malam nisfu Sya’bân yaitu perbuatan sebagian tabi’in, sebagaimana penjelasan Ibnu Rajab dalam al-Lathâif (hlm. 144), “Malam nisfu Sya’bân diagungkan oleh tabi’in dari Syam. Mereka bersungguh-sungguh melakukan ibadah pada malam itu. Dari mereka inilah, keutamaan dan pengagungan malam ini diambil.
Ada yang mengatakan, ‘Riwayat yang sampai kepada mereka tentang malam nisfu Sya’bân itu adalah riwayat-riwayat isra’iliyyat.’ Ketika kabar ini tersebar diseluruh negeri, manusia mulai berselisih pendapat, ada yang menerimanya dan sependapat untuk mengagungkan malam nisfu Sya’bân, sedangkan Ulama Hijâz mengingkarinya. Mereka mengatakan, ‘Semua itu perbuatan bid’ah.’
Tidak diragukan lagi, pendapat ulama Hijaz ini adalah pendapat yang benar karena Allâh Ta’ala berfirman, yang artinya,

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,
dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku,
dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
(Qs al-Maidah/5:3)
Seandainya shalat malam nisfu Sya’bân itu bagian dari agama Allâh, tentu Allâh Ta’ala jelaskan dalam kitab-Nya, atau dijelaskan oleh Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam melalui ucapan maupun perbuatan Beliau. Ketika keterangan itu tidak ada, itu berarti shalat khusus ini bukan bagian dari agama Allâh Ta’ala.
Semua (ibadah) yang bukan bagian dari agama Allâh Ta’ala adalah bid’ah, sementara ada dalil shahih dari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, bahwa Beliau bersabda, “Semua bid’ah itu sesat.”
Tingkatan ketiga, dikerjakan malam itu satu shalat khusus dengan jumlah tertentu dan ini dilakukan tiap tahun. Maka ini lebih parah daripada tingkatan kedua dan lebih jauh dari sunnah. Riwayat-riwayat yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits palsu.
As-Syaukâni rahimahullâh mengatakan (al-Fawâidul Majmû’ah, hlm. 15),
“Semua riwayat tentang shalat malam nisfu Sya’bân ini adalah riwayat bathil dan palsu.”

KELIMA, TERSEBAR KABAR DI MASYARAKAT BAHWA PADA MALAM NISFU SYA’BÂN ITU DITENTUKAN APA YANG AKAN TERJADI TAHUN ITU
Ini kabar yang bathil. Malam penentuan takdir kejadian selama setahun itu yaitu pada malam qadar lailatul Qadar).
Allâh Ta’ala berfirman, yang artinya,

“Haa miim. Demi Kitab (al Qur’ân) yang menjelaskan.
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi
dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.
Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”
(Qs ad-Dukhân/44:1-4).
Malam diturunkannya al-Qur’ân adalah lailatul qadar. Allâh Ta’ala berfirman, yang artinya,

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Qurân) pada malam kemuliaan.”
(Qs al-Qadr/97:1)
yaitu pada bulan Ramadhân, karena Allâh Ta’ala menurunkan al-Qur’an pada bulan itu.
Allâh Ta’ala berfirman, yang artinya,

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al Qur’ân.
(Qs al-Baqarah/2:185)
Orang yang mengira bahwa malam nisfu Sya’bân merupakan waktu Allâh Ta’ala menentukan apa yang akan terjadi dalam tahun itu berarti dia telah menyelisihi kandungan al-Qur’an.

KEENAM, ADA SEBAGIAN ORANG MEMBUAT MAKANAN PADA HARI NISFU SYA’BÂN DAN MEMBAGIKANNYA KEPADA FAKIR MISKIN
Ini yang mereka namakan ‘asyiyâtul wâlidain. Perbuatan ini juga tidak ada dasarnya dari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Sehingga mengkhususkan amalan ini pada nisfu Sya’bân termasuk amalan bid’ah yang telah diperingatkan oleh Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dengan sabda Beliau, ”Semua bid’ah itu sesat.”
Ketahuilah, orang yang membuat kebid’ahan dalam agama Allâh Ta’ala ini berarti dia telah terjerumus dalam beberapa larangan :
a. Perbuatannya menyiratkan pendustaan terhadap kandungan firman Allâh Ta’ala, yang artinya

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.”
(Qs al-Maidah/5:3)
Karena apa yang dibuat-buat ini dan diyakini sebagai bagian dari agama ini tidak termasuk agama ketika agama ini diturunkan. Dengan demikian, ditinjau dari kebid’ahan ini berarti agama itu belum sempurna (sehingga perlu disempurnakan-red)

b. Membuat-buat suatu yang baru menyiratkan kelancangan terhadap Allâh dan rasulNya.

c. Orang yang membuat-buat suatu yang baru berarti ia memposisikan dirinya sama dengan Allâh Ta’ala dalam menghukumi manusia. Allâh berfirman, yang artinya,

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allâh
yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allâh ?”
(Qs as-Syuura/42:21)

d. Membuat-buat suatu baru berkonsekuensi satu diantara dua. Yang pertama, Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam tidak tahu bahwa amalan ini bagian dari agama dan kedua, Nabi tahu namun Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menyembunyikannya. Kedua anggapan ini adalah celaan kepada Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam karena yang pertama menuduh Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam tidak tahu syari’at dan kedua menuduh Beliau menyembunyikan bagian dari agama Allâh yang Beliau ketahui.

e. Kebid’ahan menyebabkan manusia berani terhadap syari’at Allâh Ta’ala. Ini sangat dilarang oleh Allâh Ta’ala.

f. Kebid’ahan ini akan memecah belah umat. Karena masing-masing membuat manhaj sendiri dan menuduh yang lain masih kurang. Ini akan menyeret umat kedalam apa yang dilarang Allâh Ta’ala  dalam firman-Nya, yang artinya,

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang
yang bercerai-berai dan berselisih
sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.
mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,”
(Qs Ali Imrân/3:105)
dan dalam firman-Nya, yang artinya,

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka
dan mereka menjadi bergolong-golong,
tidak ada sedikitpun tanggung-jawabmu kepada mereka.
Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allâh,
kemudian Allâh akan memberitahukan kepada mereka
apa yang telah mereka perbuat.”
(Qs al-An’âm/6:159)

g. Kebid’ahan ini membuat pelakunya tersibukkan sehingga meninggalkan suatu yang disyariatkan. Para pembuat bid’ah itu, tidaklah membuat suatu kebid’ahan kecuali pada saat yang sama dia telah menghancurkan syariat yang sepadan dengannya.

Sesungguhnya apa yang tercantum dalam kitabullah dan sunnah yang shahih itu sudah cukup bagi orang-orang yang mendapat hidayah dari Allâh Ta’ala.
Allâh Ta’ala berfirman,

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb kalian
dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada
dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Katakanlah, “Dengan kurnia Allâh dan rahmat-Nya,
hendaklah mereka bergembira dengannya. karunia Allâh
dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.
(Qs Yûnus/10:57-58)
Dalam ayat lain Allâh Ta’ala berfirman, yang artinya,

“Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”
(Qs Thaha/20:123)
Akhirnya saya memohon kepada Allâh Ta’ala agar senantiasa memberikan petunjuk kepada kita dan kepada saudara-saudara kita kaum Muslimin menuju shirâtul mustaqîm dan saya memohon kepada Allâh Ta’ala agar senantiasa menolong kita di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allâh Maha Dermawan dan Maha Pemurah.

[1]
Diterjemahkan dengan sedikit ringkas dari Majmu’ Fatawa beliau, 20/25-33
[2]

HR Bukhâri, no. 1969 dan Muslim, no. 1156 dan 176
[3] HR Bukhâri, no. 1970 [4] HR Muslim, no. 1156 dan 176 [5] HR Ahmad, 5/201 dan Nasâ’i, 4/102 [6] HR Ibnu Mâjah, no. 1388